Masa Peralihan Musim, Masyarakat Diminta Waspada Cuaca Ekstrem

- 13 Maret 2021, 10:28 WIB
Masyarakat dihimbau untuk waspada, terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan selama memasuki masa pancaroba atau peralihan musim tahun ini, Akhir Maret - Awal April 2021.
Masyarakat dihimbau untuk waspada, terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan selama memasuki masa pancaroba atau peralihan musim tahun ini, Akhir Maret - Awal April 2021. /Foto: bmkg.go.id/Humas BMKG/

PORTAL LEBAK - Masyarakat dihimbau untuk waspada, terhadap potensi cuaca ekstrem dan dampak yang ditimbulkan selama memasuki masa pancaroba atau peralihan musim tahun ini.

Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) mengimbau kewaspadaan masyarakat terhadap potensi cuaca ekstrem (puting beliung, hujan lebat disertai kilat/petir, hujan es, dll) dan dampak yang dapat ditimbulkannya.

"Dampak seperti banjir, tanah longsor, banjir bandang, genangan, angin kencang, pohon tumbang, dan jalan licin selama memasuki masa pancaroba tahun ini,” ungkap Deputi Bidang Meteorologi BMKG Guswanto dalam keterangan tertulis, seperti dikutip PortalLebak.com, Sabtu 12 Maret 2021.

Baca Juga: Tampil Usai Kontroversi Wawancara Harry dan Meghan, Ratu Elizabeth Bicara Soal Planet Mars

Baca Juga: Polisi Tangkap Penyeludup dan Sita 1000 Botol Miras 'Cap Tikus'

Pasalnya, sebagian besar wilayah Indonesia akan memasuki periode peralihan dari musim hujan ke musim kemarau mulai akhir Maret 2021. Ciri umum kejadian cuaca saat periode peralihan musim, adanya perubahan kondisi cuaca yang relatif lebih cepat.

“Pada Periode peralihan musim, terdapat beberapa fenomena cuaca ekstrem harus diwaspadai, yakni hujan lebat dalam durasi singkat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang; puting beliung; waterspout, dan hujan es,” ujar Guswanto.

Perubahan cuaca, dapat berupa pagi-siang kondisi cerah-berawan dengan kondisi panas cukup terik, diikuti dengan pembentukan awan yang signifikan. Selanjutnya, hujan intensitas tinggi dalam durasi singkat yang secara umum dapat terjadi pada periode siang-sore hari.

Baca Juga: Korea Selatan Akan Mulai Program Vaksinasi Kepada Lansia Dengan AstraZeneca

Baca Juga: Video musik On the Ground Resmi Diluncurkan, Debut Solo Rose BLACKPINK

Sementara itu, fenomena hujan es merupakan fenomena yang umum terjadi selama periode peralihan musim. Hujan es dipicu oleh pola konvektifitas massa udara dalam skala lokal-regional, yang lebih signifikan selama periode peralihan musim.

Sepekan ke depan, diidentifikasi ada dinamika atmosfer yang masih dapat berkontribusi cukup signifikan, terhadap pembentukan awan hujan di wilayah Indonesia.

“Berdasarkan kondisi tersebut, BMKG memprakirakan dalam periode sepekan ke depan curah hujan dengan intensitas lebat yang dapat disertai kilat/petir dan angin kencang berpotensi terjadi,” ujarnya.

Baca Juga: Sandiaga Uno: Pelaku Ekonomi Kreatif di Desa Wisata Harus Go Digital

Baca Juga: Vaksin Ditangguhkan di Beberapa Negara, Ini Alasan Indonesia Masih Tetap Gunakan AstraZeneca

Wilayah Aceh, Sumatra Utara, Sumatra Barat, Banten Jawa Barat, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Utara.

Berpotensi juga terjadi di Sulawesi Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Maluku, Maluku Utara, Papua Barat, dan Papua.***

Editor: Dwi Christianto


Tags

Artikel Pilihan

Terkait

Terkini

Terpopuler

Kabar Daerah